Kampung Halaman Batin

Membangun Tekad Luhur
Dengan Teguh Tak Tergoyahkan

Ajaran Jing Si adalah membina ke dalam yakni kemurnian hati; mazhab Tzu Chi adalah mempraktikkan ke luar yakni Jalan Bodhisattva. Griya Jing Si adalah sumber semangat berdirinya Tzu Chi, yakni hati yang murni untuk mempertahankan tekad awal dari ajaran “dengan hati yang hening dan jernih, tekad yang luas dan luhur, teguh tak tergoyahkan untuk masa yang tak terhingga”. Mazhab Tzu Chi adalah terjun ke tengah masyarakat, dengan kebijaksanaan merespon kebutuhan semua makhluk, dengan pintu Dharma tanpa batas sebagai semangat untuk mempraktikkan ke luar, sehingga dikatakan “pintu Dharma tanpa batas, terpapar di hadapan, memperoleh kebijaksanaan agung, dan memahami segala kebenaran”.

“Dengan hati yang hening dan jernih, tekad yang luas dan luas, teguh tak tergoyahkan untuk masa yang tak terhingga” haruslah dicari ke dalam hati. Jika kondisi hati senantiasa berada pada keheningan dan kejernihan hati seperti demikian, maka tidak akan terpengaruh oleh berbagai kegelapan batin dari kondisi luar yang datang mencemari lahan batin kita. Kondisi batin kita harus senantiasa hening dan jernih, serta harus bertekad dan berikrar luhur. Jika telah bertekad, maka tekad kita harus dipegang teguh.
Buddha tidak hanya memperhatikan sebuah negara, tetapi seluruh permasalahan umat manusia di dunia. Berawal dari ketidaksetaraan masyarakat India pada saat itu, meluas hingga menjernihkan hati setiap orang. Inilah keagungan Pangeran Siddhartha. Beliau dibesarkan di istana yang bergelimang harta dan menikmati kehidupan pribadi-Nya, akan tetapi Beliau dapat memahami penderitaan rakyat jelata, beserta arogansi para praktisi Brahmana. Ketidaksetaraan ini membuat-Nya berpikir bagaimana membebaskan batin semua makhluk dan juga berpikir diri-Nya seharusnya melakukan praktik nyata guna mengubah fenomena ini. Untuk mencapai tujuan ini, diri-Nya harus mencapai pembebasan terlebih dahulu, barulah ada kemungkinan untuk mengubah hal lain. Karena itu, Pangeran Siddhartha meninggalkan keduniawian untuk memahami batin semua makhluk demi mencari kebenaran alam semesta.

Denyut nadi zaman juga memanfaatkan ruang ini. Berhubung saya (Master Cheng Yen) lahir di Taiwan, maka lingkungan hidup di Taiwan harus terintegrasi dengan era saat ini. Tumbuh besar di Taiwan, maka ruang ini seharusnya menjadi ladang pelatihan saya, untuk itu saya harus memanfaatkannya dengan baik. Bagi saya, waktu dan ruang itu sangatlah penting.

Memanfaatkan Waktu dan Ruang
Menapaki Jalan Bodhisattva

Sering kali orang bertanya pada saya: pernahkah ke luar negeri? Saya selalu menjawab dengan sangat alami, “Ke mana pun saya tidak pernah.” Ketika Amerika Serikat dan Republik Tiongkok memutuskan hubungan diplomatik, ada seorang Bhiksu di Amerika Serikat yang sangat khawatir akan kondisi saya. Beliau menulis surat menyatakan bahwa Tzu Chi adalah lembaga swadaya masyarakat, dan takutnya akan terpengaruh. Oleh karena itu, lebih baik saya meninggalkan Taiwan lebih dahulu daripada yang lain. Saat itu saya berpikir, “Ruang ini adalah ladang pelatihan saya, waktu ini adalah kehidupan saya, maka seharusnya ini adalah waktu yang tepat untuk mengembangkan potensi bajik.”

Meski pembahasannya panjang, namun pemikiran saya tidak pernah lepas dari “waktu dan ruang” dan saya senantiasa menggenggamnya dengan erat. Mengenai pusat semangat bersumber dari “Sutra Bunga Teratai” sebagai pedoman menuju “Jalan Tengah”. “Sutra Bunga Teratai” tidak seperti “Prajnaparamita Sutra” yang membahas tentang kekosongan atau “Agama Sutra” yang membahas tentang eksistensi.
Namun, baik Prajnaparamita ataupun Agama, keduanya tetap harus menapaki Jalan Bodhisattva. Keseluruhan “Sutra Bunga Teratai” yang mengulas tentang dunia Buddha di masa lalu ataupun yang akan datang, semuanya tidak lepas dari Jalan Bodhisattva. Karenanya, dalam ruang mana pun dan waktu kapan pun, kita selalu mengikuti semangat Sutra Bunga Teratai dalam membuka Jalan Bodhisattva Tzu Chi.

Meski insan Tzu Chi tersebar di berbagai tempat di seluruh dunia, semuanya mewarisi silsihan Dharma yang sama, seperti ranting dan daun dari sebatang pohon besar, semuanya berasal dari akar yang sama. Meski setiap batang pohon Bodhi tumbuh besar di berbagai tempat, semuanya bersumber dari akar yang sama, yaitu Ajaran Jing Si. Setiap insan Tzu Chi adalah murid saya, setiap orang senantiasa menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri, tekad guru sebagai tekad sendiri, saling menghargai dan bersatu hati, maka akan dapat menggarap ladang berkah di dunia.

Cuaca saat ini

JAKARTA DKI Jakarta

JING SI BOOKS & CAFE © 2018 Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang
Berafiliasi dengan Jing Si USA dan Jing Si Taiwan